Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bayangan, Pedang & Langit — Saga MLBB
Bayangan, Pedang,
Langit & Angin
Empat jiwa dari dunia yang berbeda — seorang shinobi terkutuk, seorang ksatria yang bangga, seorang gadis langit yang bebas, dan seorang pendekar angin yang terbuang. Lore asli empat hero paling ikonik di Land of Dawn.
Shinobi yang Terkutuk
Di lereng Gunung Iga yang diselimuti kabut abadi, terdapat sebuah klan shinobi tua bernama Klan Iga. Mereka bukan sekadar pembunuh bayaran — mereka adalah penjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia bayangan. Selama berabad-abad, Klan Iga menyimpan sebuah seni terlarang: Ninjutsu Bayangan, teknik yang memungkinkan sang pengguna menyatu dengan kegelapan dan bergerak di antara bayangan seolah mereka adalah satu.
Di sinilah Hayabusa dilahirkan — putra dari pemimpin Klan Iga, seorang bocah yang sejak kecil menunjukkan bakat luar biasa. Di usia tujuh tahun, ia sudah bisa bergerak tanpa suara di antara dedaunan. Di usia dua belas, ia menguasai seni melempar shuriken dengan mata tertutup. Gurunya — ayahnya sendiri — melihat sesuatu yang istimewa dalam diri bocah itu. Bukan hanya bakat, tetapi koneksi yang dalam dengan bayangan itu sendiri.
Saat remaja, Hayabusa bertemu dengan seorang pemuda lain yang tak terduga: Hanzo, seorang shinobi berbakat dari Klan Scarlet Shadow yang merupakan musuh bebuyutan Klan Iga. Tetapi di batas wilayah kedua klan, di tepian Sungai Byakko, keduanya tidak bertemu sebagai musuh. Mereka bertemu sebagai dua pemuda yang sama-sama lelah membawa beban warisan klan mereka.
Selama bertahun-tahun, diam-diam mereka berlatih bersama. Saling mengajarkan teknik, saling menguatkan saat lelah, saling menghibur saat rindu akan kebebasan. Hayabusa menemukan dalam diri Hanzo sesuatu yang tidak ia temukan di antara para shinobi Klan Iga: ketulusan. Dan Hanzo menemukan dalam diri Hayabusa: kehormatan sejati.
Namun ketenangan tidak pernah bertahan lama di Land of Dawn.
Suatu malam, sesosok kekuatan gelap dari dimensi lain — yang kemudian dikenal sebagai Abyss — menyusupi jiwa Hanzo. Iblis kuno bernama Yokai Oni mengambil alih kesadarannya, mengubah sahabatnya menjadi sesuatu yang mengerikan. Hanzo yang Hayabusa kenal — yang tertawa lepas di tepi sungai, yang berbagi misi dan impian — lenyap. Yang tersisa hanyalah cangkang berisi amarah dan kegelapan.
Lebih buruk lagi: dalam kondisi terkutuk tersebut, Hanzo menghancurkan Klan Iga. Satu malam yang kelam, ia meluluh lantakkan desa Hayabusa — membakar rumah, membantai para shinobi, mencuri Kodachi Bayangan, pedang sakral klan yang menjadi sumber kekuatan ritual mereka. Hayabusa kembali menemukan puing-puing rumahnya, tubuh ayahnya terbaring di antara abu.
📿 Lore Resmi: Klan Iga
Klan Iga adalah salah satu dari tiga klan shinobi tertua di Land of Dawn. Mereka dikenal sebagai "Penjaga Bayangan" — bertugas memastikan kekuatan-kekuatan gelap dari dimensi bayangan tidak merembes ke dunia manusia. Teknik andalan mereka adalah Ninjutsu Kagura — seni mengendalikan bayangan sebagai senjata, perisai, dan sarana transportasi.
Kodachi Bayangan, pedang yang dicuri Hanzo, adalah artefak yang dibuat oleh pendiri klan ribuan tahun lalu dari logam yang jatuh dari dimensi bayangan. Siapa pun yang memilikinya mendapat akses penuh ke alam bayangan — namun tanpa kendali jiwa yang kuat, pedang itu akan mengonsumsi pemiliknya dari dalam.
Hayabusa bisa saja tenggelam dalam kesedihan. Ia bisa saja membiarkan amarah membuatnya buta dan menjadi monster seperti yang terjadi pada Hanzo. Tapi dalam sunyi puing-puing Klan Iga, ia membuat sebuah janji — bukan janji balas dendam, melainkan janji yang lebih berat:
Ia akan menyelamatkan Hanzo.
Bukan membunuhnya. Bukan menghukumnya. Tapi menemukan cara untuk membebaskan sahabatnya dari kutukan yang menghancurkan segalanya. Untuk itu, Hayabusa harus menjadi lebih kuat dari siapa pun — harus menguasai Ninjutsu Bayangan di tingkat tertinggi, harus menemukan Kodachi Bayangan, dan harus turun ke kedalaman Abyss itu sendiri jika perlu.
Ia meninggalkan reruntuhan Klan Iga sendirian, mengenakan topeng yang menyembunyikan air matanya, dan berjalan ke dalam kabut. Bayangan memeluknya seolah menyambut pulang — dan dari hari itu, Hayabusa menjadi Shadow of Iga: bukan sekadar shinobi, melainkan legenda yang bergerak di antara cahaya dan kegelapan, mengemban misi yang hanya ia sendiri yang mengerti.
Ksatria Pedang Mireille
Di Kerajaan Baroque, nama Baroque bukan sekadar nama kerajaan — ia adalah identitas. Keluarga Baroque adalah bangsawan terkemuka yang telah mengabdi pada mahkota selama ratusan tahun. Dan di antara semua putra keluarga itu, tidak ada yang lebih berbakat dari Lancelot Baroque.
Sejak usia dini, Lancelot menunjukkan kemampuan pedang yang luar biasa. Bukan sekadar kekuatan — melainkan keanggunan. Setiap gerakan pedangnya seperti tarian; setiap serangan mengalir seperti air. Guru pedangnya yang paling senior, seorang veteran berusia tujuh puluh tahun, menyatakan bahwa dalam lima dekade mengajar, ia belum pernah melihat bakat semurni Lancelot.
Namun di balik kemampuannya yang memukau, Lancelot menyimpan satu rahasia yang tak pernah ia akui kepada siapa pun: ia takut kehilangan adiknya, Odette.
Odette Baroque adalah segalanya bagi Lancelot. Adiknya yang lembut, yang lebih suka menghabiskan waktu di taman bernyanyi untuk angsa-angsa daripada belajar protokol kerajaan. Sementara Lancelot mewarisi bakat pedang ayahnya, Odette mewarisi sesuatu yang lebih langka: kemampuan sihir yang berhubungan dengan jiwa para angsa putih — makhluk suci dalam mitologi Baroque.
Hubungan mereka bukan sekadar kakak-adik biasa. Mereka saling melengkapi seperti siang dan malam: Lancelot yang tajam dan impulsif, Odette yang lembut dan bijaksana. Di saat dunia memandang Lancelot sebagai ksatria tak terkalahkan, hanya Odette yang tahu bahwa di balik kepercayaan dirinya yang berlebihan tersembunyi seorang pemuda yang masih takut gagal.
— Odette kepada Lancelot
Kesombongan Lancelot akhirnya membawa petaka. Dalam sebuah turnamen ksatria bergengsi, ia meremehkan lawannya — seorang ksatria tua dari kerajaan tetangga — dan kalah dengan memalukan. Kekalahan itu mengguncang seluruh identitasnya. Lebih buruk lagi: dalam amarah dan malunya, ia mengucapkan kata-kata yang menyakiti Odette, satu-satunya orang yang mencoba menghiburnya.
Malam itu, dengan beban rasa malu yang tak tertanggungkan, Lancelot meninggalkan Baroque secara diam-diam. Ia berkelana ke pelosok Land of Dawn, mencari makna kehormatan yang sesungguhnya — bukan kehormatan yang diberi oleh nama keluarga dan trofi turnamen, melainkan kehormatan yang lahir dari dalam.
Dalam pengembaraannya itulah ia bertemu Hayabusa — di sebuah penginapan kecil di perbatasan wilayah Iga. Dua jiwa yang sama-sama membawa luka, bertemu dalam keheningan malam. Hayabusa melihat dalam diri Lancelot seseorang yang memilih melarikan diri dari rasa sakit. Lancelot melihat dalam diri Hayabusa seseorang yang memilih menghadapinya.
⚔ Lore Resmi: Keluarga Baroque
Keluarga Baroque adalah salah satu dari lima keluarga bangsawan besar di Kerajaan Eruditio — pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Land of Dawn. Mereka dikenal sebagai ahli pedang terbaik yang pernah ada, dengan gaya bertarung khas yang disebut "Baroque Blade" — memadukan keanggunan tarian dengan ketepatan pembunuh bayaran.
Odette Baroque dikenal sebagai "Swan Princess" karena kemampuannya berkomunikasi dengan roh-roh angsa suci. Dalam mitologi Baroque, angsa putih adalah simbol kesucian jiwa — dan hanya mereka yang berjiwa murni yang bisa memanggil sihir mereka.
Malam pertemuan mereka diinterupsi oleh berita yang menghancurkan: Odette telah diculik. Kekuatan jahat dari pinggiran Abyss — yang sama yang telah mengutuk Hanzo — mengincar kekuatan sihir jiwa milik sang Swan Princess. Mereka percaya bahwa dengan mengorbankan Odette dalam ritual kuno, mereka bisa membuka portal ke dimensi roh dan mendapatkan kekuatan tak terbatas.
Semua kesombongan, semua rasa sakit, semua luka harga diri — semuanya lenyap dalam satu detik saat Lancelot mendengar berita itu. Yang tersisa hanyalah satu dorongan paling primitif: melindungi adiknya.
Tanpa berpikir panjang, ia meminta Hayabusa untuk membantunya. Hayabusa, yang sedang dalam perjalanannya sendiri mengejar Hanzo, menimbang sejenak — lalu mengangguk. Bukan karena ia berhutang sesuatu. Tapi karena ia tahu rasa itu: kehilangan seseorang yang kau cintai kepada kekuatan yang tidak bisa kau lawan sendirian.
— Hayabusa kepada Lancelot
Gadis yang Ingin Terbang
Di antara tiga hero ini, Fanny adalah yang paling berbeda. Tidak ada darah biru mengalir di nadinya, tidak ada warisan klan kuno, tidak ada nama keluarga yang disegani. Yang ia miliki hanyalah sepasang kabel baja, tekad yang tak tergoyahkan, dan satu impian sederhana yang terasa mustahil bagi kebanyakan orang: ingin terbang bebas di langit.
Fanny lahir di kota mekanik Eruditio — kota teknologi dan inovasi terbesar di Land of Dawn. Ayahnya adalah seorang insinyur kelas menengah yang bekerja untuk Sanctum of Wisdom, lembaga teknologi terkemuka. Ibunya meninggal saat ia masih kecil, meninggalkan Fanny dengan ayah yang mencintainya dengan cara yang paling ia bisa: dengan mengajarkan cara kerja mesin.
Dari ayahnya itulah Fanny belajar memahami baja, kabel, dan mekanisme. Tapi yang paling berharga bukan ilmunya — melainkan semangat sang ayah yang selalu berkata: "Jika kau bisa membayangkannya, kau bisa membuatnya."
Sejak kecil, Fanny suka memanjat atap-atap gedung tinggi Eruditio dan menatap langit. Bukan dari ketakutan ketinggian — justru sebaliknya. Dari ketinggian, ia bisa melihat kota dengan cara yang berbeda: orang-orang yang tampak besar di bawah menjadi kecil, masalah yang terasa berat menjadi ringan, dan langit yang selalu terasa jauh tiba-tiba terasa bisa diraih.
Suatu hari, saat ayahnya sedang mengerjakan proyek mekanisme kabel baja untuk jembatan gantung baru di Eruditio, Fanny mengambil beberapa gulungan kabel tua yang tidak terpakai. Dalam beberapa hari, dengan tangan penuh luka dan semangat penuh nekad, ia menciptakan perangkat kabel baja pertamanya — sebuah sistem tembak-tarik sederhana yang memungkinkan seseorang meluncur dari satu titik ke titik lain di udara.
Dunia Fanny tidak selalu berisi impian dan langit cerah. Saat ia berusia empat belas tahun, ayahnya terlibat dalam kecelakaan laboratorium yang menghancurkan. Sebuah eksperimen energi Abyss yang dilakukan secara ilegal oleh sekelompok ilmuwan gelap di Eruditio meledak — dan ayah Fanny, yang kebetulan berada di lokasi untuk pekerjaan rutinnya, terjebak dalam ledakan itu.
Ayahnya selamat, tapi tidak utuh. Cedera parah membuatnya tidak bisa lagi bekerja sebagai insinyur. Kehidupan keluarga yang sudah sederhana menjadi semakin berat. Dan Fanny — gadis empat belas tahun itu — harus memilih: menyerah atau bangkit.
Ia memilih bangkit — dengan cara yang paling ia tahu. Menggunakan teknologi kabel bajanya yang sudah jauh lebih canggih, ia menawarkan diri sebagai kurir udara di kota Eruditio. Bergerak lebih cepat dari siapa pun, melewati jalan-jalan yang macet dengan meluncur dari gedung ke gedung. Semakin hari kemampuannya semakin terasah, sampai kabel bajanya bukan lagi sekadar alat bergerak — melainkan senjata.
Lore Resmi: Kota Eruditio
Eruditio adalah kota teknologi paling maju di Land of Dawn, didirikan oleh para ilmuwan dan insinyur yang percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan tertinggi. Di sini, sihir dan teknologi berpadu — disebut "Technomagic" — menciptakan inovasi-inovasi yang mengubah dunia.
Kota ini dipimpin oleh sebuah dewan bernama Sanctum of Wisdom, yang bertugas memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan. Namun di balik gedung-gedung megahnya, Eruditio menyimpan sisi gelap: pasar gelap teknologi Abyss yang diperdagangkan secara ilegal oleh mereka yang menginginkan kekuatan tanpa batas.
Fanny tidak pernah berencana terlibat dalam urusan pahlawan dan penjahat. Hidupnya sudah cukup rumit. Tapi takdir memiliki cara tersendiri untuk menarik orang ke tempat yang paling tidak mereka duga.
Malam saat Odette diculik, Fanny kebetulan sedang mengantar paket malam di distrik yang sama ketika penculikan terjadi. Dari ketinggian gedung, menggunakan kacamata canggih buatannya sendiri, ia menyaksikan seluruh kejadian — dan melacak rute para penculik ke arah hutan Iga di timur kota.
Ia bisa saja mengabaikan. Ini bukan urusannya. Tapi ada sesuatu dalam diri Fanny — mungkin kenangan tentang ayahnya yang terluka, mungkin pemahaman bahwa ada orang yang seharusnya dilindungi — yang tidak membiarkannya berbalik. Ia mengikuti para penculik — dan di pintu masuk hutan Iga, ia bertemu Hayabusa dan Lancelot yang juga sedang melacak jejak yang sama.
Tiga orang yang sangat berbeda, dari dunia yang sangat berbeda, dengan luka yang sangat berbeda — berdiri di tempat yang sama, menghadapi musuh yang sama. Tidak ada pilihan. Mereka harus bekerja sama.
— Fanny kepada Hayabusa dan Lancelot
Pedang yang Terbuang, Hati yang Terluka
Di puncak Gunung Qingcheng yang selalu diselimuti awan, terdapat sebuah perguruan pedang yang hanya diketahui oleh mereka yang dipilih untuk mengetahuinya: Sekte Qingcheng. Tidak ada spanduk, tidak ada papan nama, tidak ada jalan yang terang menuju ke sana. Yang ada hanyalah angin yang berbisik di antara bambu-bambu tinggi, dan bagi mereka yang cukup ringan langkahnya untuk mengikuti bisikan itu — merekalah yang layak menjadi murid.
Ling tidak perlu mengikuti angin. Ia lahir di dalam perguruan itu sendiri — putra dari seorang penatua Sekte Qingcheng yang terkenal dengan teknik pedang Qinggong: seni bergerak di atas permukaan apapun dengan ringan seperti bulu, secepat kilat seperti bayangan. Sejak usia lima tahun, Ling sudah berlari di atas dinding bambu. Sejak usia delapan, ia sudah bisa melompati jurang yang membuat para murid senior bergidik.
Tapi bakat yang luar biasa tidak selalu membawa kebahagiaan. Di perguruan yang penuh dengan hierarki dan tradisi ketat, Ling tumbuh menjadi pemuda yang merasa terkurung — bukan oleh tembok, melainkan oleh ekspektasi. Setiap lompatan yang ia lakukan diukur oleh standar ayahnya. Setiap gerakan pedangnya dibandingkan dengan para penatua. Dan Ling — yang jiwanya seliar angin pegunungan — perlahan mulai membenci aturan yang mengekang kebebasannya.
Krisis datang dari arah yang tidak terduga. Seorang murid senior — yang iri dengan bakat Ling dan takut tersaingi — memfitnah Ling telah mencuri Kitab Pedang Terlarang milik sekte. Kitab itu memang hilang. Dan Ling — yang dikenal sering melanggar aturan dengan keluar dari area perguruan tanpa izin — menjadi tersangka paling mudah.
Sang ayah, terikat oleh kode kehormatan sekte yang tidak memperbolehkan keberpihakan kepada keluarga sendiri dalam persidangan, tidak bisa membela anaknya secara terbuka. Ling berdiri sendirian di hadapan dewan penatua, dengan tuduhan yang ia tahu tidak benar, tanpa seorang pun yang mau menjadi saksi pembelaannya.
— Ling, di hadapan dewan penatua Sekte Qingcheng
Ling diusir dari Sekte Qingcheng. Tanpa nama, tanpa perguruan, tanpa arah. Hanya dengan pedangnya dan kemampuan Qinggong yang telah menjadi bagian dari nadinya. Ia turun dari Gunung Qingcheng seorang diri — dan tidak sekali pun menoleh ke belakang.
Selama berbulan-bulan, Ling berkelana di Land of Dawn tanpa tujuan pasti. Ia menerima pekerjaan apa pun yang tidak melibatkan kebohongan: menjadi pengawal, kurir rahasia, kadang hanya seorang yang diupah untuk memenangkan taruhan lomba melompat di pasar malam. Hidupnya sederhana dan bebas — dan untuk pertama kalinya sejak lahir, ia menikmati kebebasan itu.
Takdir mempertemukannya dengan Fanny di atap tertinggi kota Eruditio.
Ling sedang beristirahat di sana — duduk di tepi atap gedung tertinggi, kaki menjuntai ke bawah, memandang cakrawala kota dengan ekspresi yang susah dibaca. Dan Fanny, yang sedang meluncur dengan kabel bajanya dari gedung sebelah, hampir menabraknya. Kabel menyambar tepat di sebelah telinga Ling, dan dalam sepersekian detik Fanny sudah menggantung tepat di depan wajahnya, terkejut sama besar.
"Dan kau tidak seharusnya hampir memenggal telingaku. Tapi kita sama-sama di sini sekarang."
— Fanny dan Ling, pertemuan pertama mereka
Dari pertemuan yang hampir-celaka itu, sebuah persahabatan yang tidak biasa mulai tumbuh. Dua jiwa liar yang sama-sama tidak betah di bawah — yang satu selalu ingin melayang dengan kabel, yang satu selalu ingin melompat dari satu atap ke atap lain. Mereka tidak pernah secara eksplisit menyebut diri mereka sahabat. Tapi setiap kali Fanny menemukan tempat ngumpet favorit barunya, Ling entah bagaimana sudah ada di sana duluan. Dan setiap kali Ling lapar setelah seharian berkelana, Fanny selalu punya makanan ekstra.
🥊 Lore Resmi: Sekte Qingcheng & Qinggong
Sekte Qingcheng adalah salah satu perguruan pedang tertua di wilayah timur Land of Dawn. Spesialisasi mereka adalah Qinggong — teknik meringankan tubuh yang memungkinkan praktisinya bergerak di permukaan vertikal, melompati jarak yang mustahil, dan bergerak hampir tanpa suara. Dalam mitologi Land of Dawn, Qinggong sering disebut sebagai "Seni Angin" karena gerakannya yang mengalir dan tak terprediksi.
Pengusiran dari sekte adalah hukuman terberat dalam tradisi Qingcheng — lebih berat dari kematian, karena berarti identitas sang murid dihapus dari semua catatan sekte. Secara resmi, Ling "tidak pernah ada" bagi Sekte Qingcheng.
Ketika Fanny mengikuti para penculik Odette ke hutan Iga dan bertemu Hayabusa serta Lancelot, Ling tidak ada dalam rencana itu. Ia hanya kebetulan mengikuti Fanny dari jarak aman — karena ia melihat ekspresi di wajah Fanny malam itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: keputusan yang bulat untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.
Dan Ling, yang hidupnya sudah cukup penuh dengan keputusan berbahaya, tahu itu artinya apa.
Ia muncul dari bayangan di tepi hutan tepat saat Hayabusa, Lancelot, dan Fanny bersiap memasuki wilayah kuil. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada perkenalan resmi. Ia hanya melangkah maju, menyesuaikan pedangnya, dan berkata dengan nada santai yang sudah menjadi ciri khasnya:
— Ling, saat bergabung tanpa diundang
Hayabusa menatapnya panjang. Lancelot hampir memprotesnya. Tapi Fanny sudah tersenyum — dan dalam misi seperti ini, senyum Fanny adalah persetujuan yang paling berarti.
Malam itu, di antara kegelapan kuil dan serangan para antek Abyss, Ling membuktikan bahwa Qinggong bukan sekadar seni melompat. Ia bergerak seperti angin — muncul dari satu sudut, menghilang ke sudut lain, pedangnya menyambar cepat sebelum musuh sempat bereaksi. Bayangan Hayabusa bergerak di bawah. Pedang Lancelot berkilat di tengah. Kabel Fanny menyambar dari atas. Dan Ling — yang tidak pernah memilih sisi mana pun sejak diusir dari sektanya — malam itu memilih: sisi mereka.
Malam itu di hutan Iga, empat sosok berdiri dalam kegelapan yang sama. Hayabusa yang sudah lama sendirian dalam misinya kini memiliki rekan — bukan rekan yang ia pilih, tapi rekan yang dikirimkan oleh keadaan. Lancelot, yang dalam pengasingannya baru mulai belajar arti kerendahan hati, kini dihadapkan pada momen terbesar dalam hidupnya. Dan Fanny — gadis yang hanya ingin terbang bebas — menemukan dirinya menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pekerjaan malam.
Mereka bergerak bersama ke dalam hutan, masing-masing dengan cara mereka sendiri: Hayabusa melebur ke dalam bayangan, bergerak tanpa suara di antara pepohonan. Lancelot berjalan tegak dengan pedangnya siap, setiap langkah mengandung keyakinan yang perlahan-lahan kembali. Ling berlari di atas dahan-dahan pohon tertinggi dengan langkah Qinggong yang tak bersuara, menjadi skaut sayap kanan. Dan Fanny melayang di atas kanopi pepohonan, menjadi mata mereka dari langit, mengarahkan ketiga orang di bawah dengan isyarat kabel bajanya.
Pertempuran di Kuil Bayangan adalah salah satu yang paling brutal yang pernah tercatat dalam sejarah Land of Dawn. Mereka menghadapi puluhan antek Abyss, makhluk-makhluk yang dikendalikan oleh kekuatan gelap yang sama yang telah mengutuk Hanzo. Tapi tiga hero itu tidak mundur — tidak bisa mundur.
Di puncak momen paling gelap pertempuran, saat Lancelot terdesak dan dikelilingi musuh, Hayabusa muncul dari bayangannya sendiri seperti badai — bayangan-bayangan menjadi senjata, setiap gerak adalah kegelapan yang membunuh. Dan dari langit, Fanny menyelam dengan kecepatan kabelnya, memotong tali-tali ritual yang mengikat Odette sebelum upacara pengorbanan sempurna diselesaikan.
Odette dibebaskan.
Saat fajar menyingsing di atas hutan Iga, empat sosok yang kelelahan berdiri di antara reruntuhan kuil. Odette berada dalam pelukan Lancelot yang gemetar. Hayabusa duduk sendiri di sudut, menatap pedangnya — masih belum menemukan Hanzo, tapi malam ini ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam perjalanannya. Dan Fanny duduk di cabang pohon tertinggi, menatap langit yang perlahan berubah dari hitam ke jingga — senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.
Setelah hari itu, jalan mereka kembali berpisah. Hayabusa melanjutkan pencariannya akan Hanzo — kini dengan tekad yang lebih kuat dan luka yang sedikit lebih ringan. Lancelot kembali ke Baroque dengan pemahaman baru tentang apa artinya kehormatan — bukan trofi, bukan nama, tapi pilihan yang dibuat di saat paling sulit. Ling kembali ke pengembaraannya — tapi kali ini dengan satu orang yang selalu ia tahu posisinya di antap tertinggi kota berikutnya. Dan Fanny kembali ke langit Eruditio, tapi kini ia terbang bukan hanya untuk dirinya sendiri — melainkan untuk semua orang yang pernah berkata kepadanya bahwa mimpinya terlalu tinggi.
Empat jiwa dari empat dunia berbeda. Empat luka yang berbeda. Empat kekuatan yang berbeda. Tapi dalam satu malam di hutan Iga, keempatnya membuktikan satu hal yang sama: bahwa bayangan, pedang, langit, dan angin — ketika bergerak bersama — tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
TAMAT — BAYANGAN, PEDANG, LANGIT & ANGIN
Berdasarkan lore resmi Mobile Legends: Bang Bang
Postingan Populer
Teori Titan di dunia nyata : anime attack on titan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Teori Multiverse: Alam Semesta yang Tak Terbatas
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar